Minggu, 22 Februari 2009

RIWAYAT TRAH KEPATIHAN DANUREDJO



Dalam keratonan Hamengkubuwono dikenal abdi dalem yang membantu tugas para Raja. Para Abdi dalem ini dibagi tingkatannya menjadi enam Tingkatan yaitu :

• Kanjeng Pepatih Dalem (satu tingkat dibawah raja)
• Kanjeng Tumenggung Nagari (kalau pemerintahan sekarang setingkat Menteri)
• Kanjeng Panji Palang Nagari/Kanjeng Wedana(Setingkat Gubernur/Bupat memegang daerah kadipaten)
• Bekel Punakawan Bedaya
• Jajar Punakawan Bedaya (Lurah/Komandan Pasukan)
• Pangaruh Babar (Prajurit/ Mantri)
• Emban Dalem (Pembantu Keraton)

Kepatihan dalam tradisi kraton Hamengkubuwono dibagi menjadi 2 yaitu Patih yang mengurus masalah pertahanan Keamanan dan Patih yang mengurus masalah Ekonomi dam masyarakat. Dalam hal ini Trah Keluarga Daredjo adalah kepatihan yang mengurusi bidang Pertahanan dan Keamanan Kerajaan. Tradisi Kepatihan sama halnya dengan tradisi Raja, bersifat turun temurun. Hanya bedanya jika Raja Meninggal maka digantikan oleh anak-anak Raja terutama dari permaisuri dan biasanya anak pertama raja yang disebut Putra Mahkota.

Dalam tradisi kepatihan ada sedikit perbedaan.Apabila seorang patih meninggal maka yang berhak mewariskan jabatannya bisa anak-anaknya,Adiknya atau ponakannya asal masih ada darah dari kepatihan yang bersangkutan.Tapi dengan syarat ia sudah harus setingkat Kanjeng Tumenggung Nagari atau Panji Palang Nagari.

Kembali saya bahas masalah kepatihan Danuredjo, Trah Danuredjo mengklaim sebagai keluarga Keratonan Surakarta Hadiningrat yang masih keturunan langsung dari Mahapatih Gadjah Mada. Salah satu turunan Mahapatih Hijrah ke Tanah Jawa dan mendirikan Kadipaten Palangsari (Sekarang Solo) sempat terjadi konflik dengan keratonan Surakarta karena dianggap melanggar batas wilayah, namun berdasarkan informasi bisa diselesaikan dan wilayah Talangsari menjadi wilayah Keratonan Surakarta (saya lupa Tahunnya).

Pada abad 17 sekitar tahun 1715 Hamengkubuwono I Mendirikan Kerajaan keratonan Hamengkubuwono dan Trah Karangbaswaro sebagai penguasa Ngayogyakarta sekitarnya. Dalam rangka memperluas kekuasaannya. Keraton Hamengkubuwono menginvasi Keraton Surakarta,Cirebon dan Kediri. Setelah peperangan selama 2 Tahun akhirnya keratonan Surakarta tunduk dibawah Keratonan Hamengkubuwono bersama Keratonan Cirebon.

Saya tidak tahu resminya kapan Danuredjo I diangkat menjadi patih kertaonan Hamengkubuwono pasca kekalahan keratonan Surakarta. Namun dari informasi yang saya kumpulkan, kejatuhan keratonan Surakarta disebabkan andil dari Danuredjo I. Maka atas jasanya Hamengkubuwono Menganugrahkan kepatihan dipegang oleh Trah Danuredjo (maaf saya kurang informasi mengenai nama aslinya).

Berikut ini daftar Kepatihan Danuredjo I sampai dengan VIII yang berhasil saya kumpulkan (maaf kalau tidak lengkap) :

KP DANUREDJO I
Mengenai Dauredjo I saya kurang mengenal karena minimnya informasi. Namun yang pasti sebelumnya beliau adalah Adipati Wedana (setingkat gubernur) dalam keratonan Surakarta Solo, Kemudian beliau membelot dan bergabung dalam keratonan Hamengkubuwono Yogyakarta. Karena andil beliau juga keratonan Surakarta bisa ditaklukan dalam kekuasaan keratonan Hamengkubuwono. Dibawah pimpinan Danuredjo I Keraton Yogyakarta pada akhirnya bisa menaklukan kerajaan Banjar dan Mataram. Atas jasa-jasanya itulah Hamengkubuwono I menganugrahkan gelar tertinggi kepatihan dan sekaligus gelar keraton Kanjeng Patih pada Danuredjo I. Beliau gugur dalam peperangan penaklukan kerajaan Banjar.

KP DANUREDJO II
Danuredjo II menggantikan ayahnya Danuredjo I sekitar tahun 1760, Dalam masa kepemimpinannya beliau banyak melahirkan ide-ide sistim keamanan keraton dan pembentukan kesatuan prajurit keraton menjadi 3 bagian yang masing-masing mempunyai fungsi berbeda yaitu Kesatuan Ketanggung, Kesatuan Patangpuluh dan Kesatuan Jogokaryo. Kesatuan ini langsung berada dibawah kepemimpinan beliau terutama dalam menghadapi serbuan pasukan Inggris. Pada masa KP Danuredjo II Kerajaan Banjar berhasil ditaklukan dibawah keraton Yogyakarta.

KPH DANUREDJO III
Pada tahun 1790 Danuredjo III yang bernama asli Barep Hadiwanaryo naik tahta menggantikan Danuredo II yang gugur dalam perang dengan pihak Inggris, status hubungan keduanya adalah Paman dan Keponakan. Adapun Hamengkubuwono II yang berinisiatif menunjuk Barep Hadiwanaryo selaku keponakan (anak adik dari Danuredjo II) Danuredjo II sebagai Danuredjo III, karena dianggap layak dan mumpuni dibandingkan trah Danuredjo lainnya. Saat itu usia Barep Hadiwanaryo masih muda sekitar 19 tahun. Ternyata penunjukan Barep Hadiwanaryo sebagai Danuredjo III tidaklah sia-sia. Keraton Yogyakarta bisa memukul mundur Penjajahah Inggris yang mulai memasuki wilayah Jawa Tengah. Pada bulan Juni 1812 Danuredjo III berhasil memimpin pasukan menghancurkan balatentara Inggris dibawah pimpinan Jenderal Gillespie. Danuredjo pun berhasil membunuh Jenderal Gillespie dan Admiral Michael P Scot.Keberhasilan ini mengantarkan Danuredjo III mendapat anugrah Mahapatih dari Hamengkubuwono II dan Gelar Kanjeng Patih Sinuwunharjo (KPH) dan tangan kanan langsung dari Hamengkubuwono II. Danuredjo III juga memperistri tiga putri Hamengkubuwono II, maka mulai dari sinilah Trah Danuredjo menjadi bagian keluarga dari Hamengkubuwono.
Pada masa Kepatihan Danuredjo III juga mulai muncul pemberontakan-pemberontakan dari keratonan lain yang berada dibawah Kerajaan Hamengkubuwono. Keraton Kediri dan Keraton Surakarta. Namun pemberontakan-pemberontakan itu bisa diredam oleh kekuatan dari Patih Danuredjo III. Bahkan atas perintah Hamengkubuwono II pada tahun 1799 Keratonan Kediri dibumi hanguskan oleh Danuredjo III. Danuredjo III pun memusnahkan hampir semua kerabat Keraton Kediri. Selanjutnya keraton kediri turun statusnya menjadi kadipaten Kediri dan dipimpin oleh Adipati yang merupakan salah satu dari Putra Danuredjo III (nanti menjadi Danuredjo IV).
Selain pemberontakan dari daerah kekuasaannya. Danuredjo III pun menghadapi pemberontakan dari trah Danuredjo sendiri terutama yang berasal dari anak-anak Danurdjo II yang tidak suka melihat kepemimpinan Danuredjo III. Pemberontakan bisa dikendalikan setelah salah satu putera Danuredjo II yang menjadi dalang pemberontakan dihukum mati oleh Danuredjo III. Pada tahun 1815 hubungan Danuredjo III dan Raja baru yaitu Hamengkubuwono III mulai merenggang, Hal ini akibat dari perjanjian penghentian perang antara Pihak keraton dan pemerintah Inggris yang kemudian dilanjutkan dengan kerjasama yang ditandatangani Hamengkubuwono III dan Rafles sebagai Gubernur Jenderal. Danuredjo III yang tidak menyetujui hal itu mengundurkan diri sebagai mahapatih dan melepaskan jabatannya pada tahun 1813, Jabatan kepatihan Keraton kosong hingga 5 tahun setelah itu Hamengkubuwono IV menunjuk putra Danuredjo III yaitu KP Joko Hadiyosodiningrat yang saat itu sebagai Adipati Kediri sebagai Mahapatih dan bergelar Danuredjo IV.
Catatan : Menurut legenda. Danuredjo III terkenal dengan kekuatannya, Dari legenda keraton dikatakan ia sanggup memindahkan batu besar seberat 1,5 ton tanpa bantuan siapapun. Danuredjo III pun terkenal dengan keperkasaannya dalam setiap peperangan,beliau selalu memimpin prajuritnya di garis paling depan. Danuredjo III juga merupakan simbol kejantanan, selain memperistri 3 putri Hamengkubuwono III beliau juga masih mempunyai 10 orang istri lagi.

GKP DANUREDJO IV
GKP Joko Hadiyosodiningrat menjadi Danuredjo IV patih keraton Yogyakarta menggantikan ayahnya. Gelar Gusti Kanjeng Raden (GKP)yang disandang karena Danuredjo IV adalah putra dari seorang ibu turunan Hamengkubuwono II (maaf saya lupa namanya) dan Mahapatih Danuredjo III. Sehingga gelar GKP sangatlah istimewa dan berhak disandang bagi keturunan dua keluarga termasyur, dari sinilah lahir istilah Gusti Kanjeng Pangeran (GKP). Otomatis beliau juga termasuk putra mahkota dan disiapkan oleh Hamengkubuwono III sebagai salah satu calon selain RM Ontowiryo (dikenal sebagai Pangeran Diponegoro) dan RM Ibnu Jarot (akhirnya menjadi Hamengkubuwono IV). Namun pada akhirnya beliau menolak menjadi raja dan membiarkan RM Ibnu Jarot menjadi Hamengkubuwono IV pada tahun 1814. Namun karena usianya masih sangat muda maka pemerintahan sementara dipegang oleh Paku alam I dari keraton Hadiningrat Surakarta. Banyak sekali kontroversi selama masa pemerintahan Pakualam I, Hamengkubuwono IV dan Danurejo IV.
Karena Hamengkubuwono IV masih muda dan belum bisa mengambil keputusan maka setiap kebijakan pemerintah banyak melibatkan Danuredjo IV dan Pakualam I. Pada masa pemerintahan ini, banyak rakyat Yogyakarta menderita karena Danuredjo IV dan Pakualam I justru bekerjasama dengan pemerintahan Belanda. Belanda dan pihak keration saling berbagi daerah kekuasaan dan membuat sistim pertahanan bersama untuk mencegah Inggris datang kembali. Danuredjo IV juga merintis pasukannya sendiri yaitu kesatuan Mantrijero yang justru bertujuan melindungi keluarga Danuredjo IV dan trahnya. Perang dingin antara Danuredjo IV dan Pakualam I semakin memperparah keadaan intern keraton. Keraton semakin tidak perduli dengan rakyat, hal ini yang akhirnya membuat RM Ibnu Jarot (Pangeran Diponegoro) hengkang dari keraton dan memilih berjuang sendiri demi rakyat. Akibatnya tidak ada kerukunan sesama keluarga keraton. Konfrontasi antara Danuredjo IV dan Pangeran Diponegoro pun pernah terjadi.
Selama berkuasa Danuredjo IV banyak menempatkan saudara-saudaranya untuk menduduki jabatan penting di pemerintahan. Satu demi satu pejabat keraton yang setia disingkirkan. Tidak terkecuali trah Patih Setiabudi III yang membidangi masalah EkonomiMasyarakat.
Setelah Pakualam I mundur dari jabatannya (ada desas desus karena tekanan dari Danuredjo IV) kekuasaan patih Danuredjo semakin merajalela. Kerjasama dengan Belanda semakin meningkat. Apalagi ketika Hamengkubuwono IV pun meninggal mendadak (desas desusnya pun Danuredjo IV terlibat) membuat Danuredjo IV semakin berkuasa. Pengangkatan putra mahkota yaitu RM Mustoyo yang belum genap berumur tiga (3) tahun (dalam tradisi raja Hamengkubuwono V adalah raja yang paling muda ketika dilantik) semakin membuat patih Danuredjo berkuasa. Dan tidak mengkawatirkan sepak terjang Hamengkubuwono V nantinya. RM Mustoyo pun mengikuti pendidikan militer di Belanda atas rekomendasi pemerintah Belanda. RM Mustoyo juga mempersunting putri kesayangan Danuredjo IV Kanjeng Mas Hermawati.
Dengan bekal kemiliterannya ini diam-diam Hamengkubuwono V membentuk pasukan Langenastro dan pasukan Dhaeng untuk membersihkan keraton dari kekuasaan mertuanya Danuredjo IV dan keluarganya. Pembersihan yang di pimpin Hamengkubuwono V dikenal oleh sejarah Keraton sebagai pembersihan yang cerdas karena hampir bisa dikatakan tidak menyebabkan pemberontakan dan pertempuran darah yang besar. Bahkan sangat rapih dan rahasia sekali.
Pasca pembersihan Danuredjo IV sempat ditahan selama 5 tahun namun mengingat akan jasa-jasanya juga sekaligus mertuanya, HamengkubuwonoV melepas beliau dengan syarat harus menjauh dan tidak berhubungan dengan pihak keraton Yogyakarta. Danurejo IV diketemukan tewas dalam kerusuhan Keratonan Surakarta .

Catatan : Salah satu jasa Danuredjo IV adalah membungkam pemberontakan keraton Kacirebonan. yang ingin memisahkan diri dari kekuasaan keraton Yogyakarta, yang lebih spektakuler dari usaha meredam pemberontakan ini adalah Danuredo IV hanya membawa 99 orang pasukan berhadapan dengan 8000 pasukan keraton cirebon.

KP DANUREDJO V
Hadiwaryo diangkat oleh Sultan Hamengkubuwono V sebagai Patih danuredjo ke V. Hadiwaryo adalah cucu dari Danuredjo III dan merupakan keponakan dari Danuredjo IV. Tidak seperti pendahulunya pada masa kepemimpinan Hamengkubuwono V dan Danuredjo V adalah masa kesejahteraan rakyat. Kedekatan Hamengkubuwono V dengan Belanda membuat keadaan Kerajaan yang semula penuh konflik menjadi kondusif dan stabil. Hamengkubuwono V menjalin kerjasama yang menguntungkan dengan Belanda dengan harapan mampu menciptakan kesejahteraan rakyat. Hal ini pun didukung oleh patih Danuredjo V. namun tidak bagi abdi dalem dan pangeran dilingkungan keraton yang menjunjung tinggi nilai perjuangan leluhur terdahulu Sehingga menimbulkan banyak pertentangan.
Kepemimpinan Hamengkubuwono V dan patih Danuredjo V sekitar tahun 1850 banyak melahirkan kebijakan-kebijakan yang tidak merugikan rakyat. Pemberontakan Mataram dan daerah kadipaten yang hendak memisahkan diri berhasil diredam. Walaupun kerajaan Banjar akhirnya bisa melepaskan diri. Namun kebijakan yang lain seperti pengurangan pajak tanah dan pembangunan sarana dan prasarana untuk digunakan secara bersama mampu membuat kesejahteraan rakyat meningkat. Di bidang keamanan Danuredjo V bertindak sangat keras dan disiplin. Abdi dalem yang jelas-jelas kedapatan mengkorupsi uang kerajaan atau melakukan perbuatan kurang terpuji terhadap rakyat langsung mendapatkan hukuman berat. Danuredjo V berhasil melakukan pembersihan dilingkungan Keraton dan juga keamanan masyarakat. Berbagai perkumpulan dan kriminalitas yang meresahkan masyarakat beliau babat habis. Hanya saja beliau tidak bisa melakukan apa-apa ketika kerabat keraton sendiri yang melakukan "Kudeta" Terhadap Hamengkubuwono V. Pada tahun 1854 Sri Sultan Hamengkubuwono V meninggal dunia dan digantikan oleh adiknya RM Ariojoyo (sebagai Hamengkubuwono VI). Danuredjo V sempat hendak mengundurkan diri namun atas permintaan Hamengkubuwono VI ia masih memangku jabatan sampai tahun 1875. Beliau pensiun dan banyak mendalami ilmu agama.
Catatan : Menurut legenda Danuredjo V dikenal sebagai patih yang mempunyai kesaktian mumpuni. Banyak cerita mengenai kesaktian beliau. Seperti beliau bisa berada di beberapa tempat pada waktu yang sama namun pada lokasi yang berbeda, Mengetahui pelaku pembunuhan dengan hanya menyentuh barang yang digunakan sang pembunuh atau memindahkan bangunan pendopo keraton kelokasi yang berbeda dalam semalam tanpa diketahui siapapun.

KP DANUREDJO VI
Danuredjo VI naik tahta menggantikan Danuredjo V pada masa pemerintahan Hamengkubuwono VII sekitar tahun 1877. Danuredjo VI adalah adik dari Danuredjo V (Maaf saya tidak mendapatkan nama aslinya).Pada masa ini Keraton banyak melakukan perubahan di berbagai bidang menuju kearah modernisasi. Pihak keraton sudah mulai membuka diri terhadap pengaruh kebudayaan asing. Dibidang keamanan Danuredjo VI mempelopori modernisasi prajurit keraton dan membaginya menjadi 8 Kesatuan prajurit keraton.
Belanda yang mengetahui perubahan struktur dan modernisasi Prajurit keraton tidak menyetujuinya. Hal ini sempat mendapatkan reaksi keras dan juga tentangan dari Danuredjo VI. Belanda akhirnya bisa mempengaruhi Hamengkubuwono VII dan Petinggi keraton lainnya untuk membatalkan rencana modernisasi prajurit keraton. Kebijakan pun dibatalkan oleh Hamengkubuwono VII yang lebih mengutamakan pendirian pabrik gula dan usaha swasta. Hal ini meregangkan hubungan Danuredjo VI dengan Hamengkubuwono VII dan juga petinggi keraton lainnya. Danuredjo VI pun mengundurkan diri (saya tidak tahu tahun berapa tepatnya) dan akhirnya digantikan oleh Sepupu beliau RM Bambang Ryanto. Sedangkan beliau mengasingkan diri dan lebih banyak memperdalam ajaran agama islam. Beliau lebih dikenal sebagai Kyai Karebet.

KPH DANUREDJO VII
RM Bambang Ryanto menjadi Danuredjo VII menggantikan sepupunya Danuredjo VI. Pada masa kepatihannya beliau tergolong cukup sukses, bersama Hamengkubuwono VII beliau mendirikan banyak industri rakyat dan sekolah bagi Abdi dalem. Beliau juga yang mempelopori berdirinya usaha patungan swasta dan pemerintahan kerajaan dengan mengajak para bangsawan bersama menanamkan modalnya. Dibidang pertahanan beliau mengurangi jumlah personil prajurit keraton karea bidang keamanan sudah sebagian ditangani oleh Belanda. Hal ini jelas menjadi keresahan dikalangan prajurit keraton. Namun Danuredjo VII tidak kehilangan akal. Ia mengalihkan sebagian besar fungsi prajurit keraton menjadi pengawal hasil panen (distribusi) dan sebagian lagi diperbantukan dalam pabrik-pabrik milik Danuredjo VII. Beliau menjadi orang yang sangat kaya. Rupanya hal ini menimbulkan kecemburuan dikalangan Abdi dalem dan Kerabat keraton. Mereka menuntut agar Danuredjo VII kembali kepada fungsi jabatannya yaitu mengurusi pertahanan dan keamanan. Perselisihannya dengan Hamengkubuwono VII dimulai ketika Danuredjo VII berani merebut kawasan perdagangan Raja. Hamengkubuwono VII akhirnya memutuskan memberhentikan beliau sebagai patih karena dianggap melalaikan tugasnya dan juga berani mengganggu wilayah perdagangan raja.

KPH DANUREDJO VIII
Sepeninggal KPH Danuredjo VII, Hamengkubuwono VII langsung menunjuk putra ketiga Danuredjo VI yaitu Subari Wiro Haryodirgo sebagai patih Danuredjo VIII. Karena beliau dikenal tegas dan bijaksana. Selama masa kepatihan dipegang beliau roda pemerintahan dan keamanan dipegang dengan baik. Pada masa ini pula keraton mulai melakukan perlawanan secara diam-diam melawan Belanda. Atas titah Hamengkubuwono VII diam-diam keraton membiayai dan memperbantukan prajurit keraton dalam perjuangan masyarakat melawan Belanda pada tahun 1910, dibawah kepemimpinan Danuredjo VII para pejuang diberikan berbagai fasilitas keraton untuk melawan penjajah Belanda sekaligus pendidikan dan taktik strategi perang. Karena berbagai keberhasilan dan jasa beliau Hamengkubuwono menikahkan beliau dengan putri sulungnya GKR Candrakirono. KPH Danuredjo VIII termasuk yang paling lama menjadi patih Yogyakarta hampir 3 generasi kesultanan yaitu Hamengkubuwono VII, Hamengkubuwono VIII dan Hamengkubuwono IX. Beliau juga satu-satunya patih yang mempunyai pendidikan formal tinggi yaitu Sarjana Politik dari Belanda, beliau lulusan ELS (Europeesche Lagere School) dan satu-satunya juga patih yang benar-benar merangkak dari bawah dalam hal Jabatan. Akibat ketidakcocokannya dengan Hamengkubuwono IX beliau mengundurkan diri sebagai patih pada tahun 1945. Dan beliau adalah patih terakhir Kesultanan Hamengkubuwono, karena selanjutnya Kesultanan tidak mengaktifkan kembali fungsi kepatihan.

Catatan : Danuredjo VIII yang saya dengar mempunyai kemampuan supranatural tinggi, Beliau mampu tahu apa yang belum terjadi. Kata-katanya selalu menjadi kenyataan, beliau mampu melakukan penyembuhan dan juga bisa memberikan konsultasi perdagangan secara tepat.

58 komentar:

  1. Terimakasih atas kerja keras dan usaha penulis dalam memberikan informasi tentang sejarah Riwayat Trah Kepatihan Danurejo yang pernah ada di Keraton Ngayogyakarta, semoga ada informasi tambahan untuk melengkapi hal-hal yang belum tertulis, semua ini tentu sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Beritanya menarik sekali saya masih penasaran dimanakah keluarga danurejo IV setelah dilakukan pembersihan oleh HB V apakah dibunuh semua atau diasingkan...thxs

    BalasHapus
  4. Saya kturunan Danurejo IV, yg mana Eyang memakai nama Surodipo, Eyang Tinggal di klesem, Tawangsari, Kec Wonoboyo, Kab Temanggung, sampai Eyang Mangkat, mengajarkan Ilmu agama Islam marang wong cilik, coba dicari lagi sejarah Danurejo IV

    BalasHapus
    Balasan
    1. istri saya juga keturunan danurejo IV ya Ki Surodipo....jangan ngarang kalau Danurejo IV ditemukan sudah meninggal di kerusuhan kraton surakarta....... beliau wafat di Desa Tawangsari terbawa Banjir bandang Desa Klesem pada tahun -+ 1877 ....

      Hapus
    2. Nama-nama yang pernah digunakan Surodipo adalah sebagai berikut :
      yosentiko, nama ini dipakai ketika masih menjadi abdi kepercayaan Pangeran Adipati Anom (ayahanda Pangeran Diponegoro, kelak HB III).

      2. Tumenggung Sumodipuro, nama ini dipakai ketika menjabat Bupati Japan (Mojokerto). Beliau memperoleh kepercayaan menjadi bupati karena jasa- jasanya ketika muncul pemberontakan Sepoy, dan juga karena jasanya dalam proses pergantian pucuk kekuasaan dari HB II kepada HB III.

      3. Raden Adipati DanureJo IV (Patih Danure)o IV), nama jabatan tertinggi yang dicapai dalam karir politik Surodipo. Pengangkatan dalam jabatan ini dlraih karena usul John Crawfurd (Residen Yogyakarta) dan didukung oleh Pangeran Diponegoro. Beliau memegang jabatan ini dalam kurun waktu 34 tahun (1813-1847), adalah waktu yang sangat lama untuk jabatan politik.
      4. Pangeran Kusumoyudo, nama kehormatan anugerah dari pemerintah Hindia Belanda sebagai penghargaan atas prestasi dan jasa-jasa Patih Danurejo IV selama menjalankan tugasnya. Penghargaan tersebut diberikan saat dilaksanakan acara serah terima jabatan (puma tugas) Patih Danure]o IV. Selanjutnya jabatan Patih Yogyakarta digantikan Tumenggung Gondokusumo dengan memakai nama jabatan Raden Adipati Danurejo V (Patih Danurejo V)

      5. Surodipo, nama yang dipakai setelah terbebas dari urusan pemerintahan dan menjadi rakyat biasa yang berbaur di tengah-tengah masyarakat. Pada jamannya dulu nama yang satu ini sangat populer di kalangan masyarakat jawa. Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, Surodipo sering berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Pergaulan Surodipo sangat luas di kalangan masyarakat bawah, tetapi hampir tidak ada yang mer›getahuI Surodipo adalah mantan penguasa teninggi dalam pemerintahan di Kasultanan Yogyakarta, karena Surodipo sendiri tidak pernah menceritakan l‹epada orang lain.
      Berdasarkan beberapa bukti sejarah dan cerita tutur dari para keturunannya g tersebar di berbagai tempat, ada dugaan kuat Surodipo menghabiskan masa akhir hidupnya di kawasan Gunung Prahu Kabupaten Temanggung. Di kawasan ini beliau mendirikan pesantren untuk menyebarkan agama Islam. Untuk mengenang sejarahan Surodipo, Pemerintah Kabupaten Temanggung mengabadikan rtama Wzrodipo sebagai nama tempat obyek wisata air ter]un yang semula bernama Curug Trocoh menjadi Curug Surodipo.
      Dalam penulisan buku ini akan menggunakan nama-nama tersebut di atas dengan waktu terjadinya peristiwa. Tetapi pada prinsipnya tokoh yang dimaksudkan adalah menunjuk satu orang, yakni :
      Joyosentiko = Tumenggung Sumodipuro = Patih Danurejo IV = Pangeran Kusumoyudo =Surodipo.


      Hapus
    3. ASAL-USUL SURODIPO.

      Nama Surodipo tersebar di berbagai pelosok, ”dan kerap dihubungkan dengan kasultanan Yogyakarta pada paruh pertama abad 19. Peristiwa perang jawa tahun 1825-1830 adalah momentum yang melambungkan namanya, Surodipo seolah menjadi magnit yang menyedot perhatian sebaglan orang sejak jaman Sultan Hamengkubuwono II sampai abad sekarang.
      Surodipo adalah keturunan l‹e tujuh Untung Suropati, sekaligus keturunan he delapan Adipati Trunojoyo. Sebagai trah pemberontak kolonial, sudah pasti Surodipo mewarisi karakter leluhurnya, apalagi hampir sebagian besar leluhurnya gugur dl medan tempur melawan serdadu kompeni. Yang menjadi persoalan adalah Surodipo hidup di tengah-tengah kekuasaan Mataram (Yogyakarta) dan Supermen 8elanda/Inggris. Kondisi ini memaksa Surodipo menggunakan akal dan okol untuk meneruskan perjuangan. Dan hasilnya meletus Perang Jawa yang menggerogotl keuangan Kompeni. Tidak dapat dipungkiri korban yang jatuh sangat besar, Pangeran Diponegoro harus menerima takdir di tanah pengasingan. Di sisi lain Surodipo harus berbesar hati karena tercatat sebagai pelaku sejarah penuh kontroversi : Patih Dznure]o IV.
      Banyak orang yang mengatakan Surodipo berdarah Bali atau setidaknya campuran antara Bali dan jawa. Hal tersebut memang tidak salah, karena Surodipo adalah keturunan ke tujuh Untung Suropati berasal dari Bali. Nama Untung hanyalah nama yang diberikan oleh majikannya ketika di Batavia, sedangkan Suropati nama pemberian Sultan Cirebon. Nama yang sebenarnya adalah Surowiroaji, ayahnya bernama Jatiwiyasa, seorang bangsawan dari Tabanan Bali. dalam sejarah Kadipaten Pasuruan dikalahkan oleh Belanda (tahun 1706), keluarga Untung Suropati tercerai-berai, sebagian terbunuh, sebagian menyelamatkan din ke hutan serta sebagian lagi tertangkap dan dibuang ke Sailan (Srilangka). Mereka yang berhasil menyelamatkan diri bergabung dengan dinasti Mataram, khususnya kepada keturunan Sunan Amangkurat II. Hubungan antara Untung Suropati dan Sunan Amangkurat (II dan III) sangat harmonis, sehingga tidak berlebihan jika keturunan ”dari keduanya juga terjalin hubungan yang baik. Apalagi menilik sejarahnya istri Untung Suropati (Dewi Gusik Kusumo) adalah kemenakan Sunan Amangkurat II.
      Ibunda Dewi Gusik Kusumo adalah sekar kedaton Mataram yang menjadi putri boyongan Adipati Trunojoyo ketika penyerbuan Negeri Mataram (Plered). Mataram melakukan serangan balik, Trunojoyo dikalahkan dan dihukum mati oleh Sunan Amangkurat II, saat itu putri boyongan yang diperistrinya tengah mengandung Gusil‹ Kusumo. Dengan demikian Surodipo adalah juga keturunan ke delapan Adipati Trunojoyo, seorang Memberontak Tanah Jawa yang pertama kali berani melawan kolonial Belanda.
      Ketika Pangeran Mangkubumi memberontak kepada Sunan Pakubuwono Ill, anak keturunan Untung Suropati turut mendukung perjuangan, hingga akhirnya pada tahun 1755 Pangeran Mangkubumi berhasil mendirikan Kasultanan Yogyakarta setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Sejak saat itulah anak keturunan Untung Suropati banyak yang mengabdi di Kasultanan Yogyakarta.
      Salah seorang keturunan Untung Suropati bernama Ng. Wijayengsastra, beliau mengabdi di Yogyakarta sebagai ahli sastra. Tulisan-tulisannya sebagian besar mengenai falsafah politik dan falsafah hidup jaman Mataram Kuno, karena itulah Wijayengsastra juga dijuluki Wijayengsastra Rama, Dalam salah satu literatur disebutkan Wijayengsastra juga menjabat Bupati Mataram yang membawahi tanah milik Sultan \kroonsdomein) meliputi wilayah Bantul dan Sleman.
      Dari Wijayengsastro inilah tumbuh bibit pemberontak sejati, pemberontak dengan serlbu satu jalan guna menghancurkan musuhnya. Keuangan kongsi dagang Belanda hancur dalam peperangan selama lima tahun, namun mereka tidak pernah menyadari bila sumber api dan perancang peperangan itu berada di dalam loji dan istana, dialah : Surodipo, darah pemberontak!

      Hapus
    4. Numpang hadir dari keturunan Eyang Surodipo...saya cucu dari R.M Slamet Rahardjo cucu dri Eyang Surodipo...salam kenal yg maaih 1 trah sama Egang Buyut Surodipo...

      Hapus
  5. Apakah ada dua orang berbeda yang punya nama/gelar sama, yaitu Danureja VIII?

    Yang satu adalah Kanjeng Raden Adipati Danurejo VIII / Subari Wiro Haryodirgo, putra dari Kanjeng Raden Adipati Danurejo VI / Kanjeng Pangeran Haryo Yudonegoro II (Pangeran Haryo Cakraningrat). KRA Danurejo VI menjadi Patih Kasunanan Surakarta 1899-1911, lihat http://en.rodovid.org/wk/Person:472052 dan http://en.rodovid.org/wk/Person:460425. sedangkan tentang KRA Danurejo VIII tak disebutkan bahwa menjadi Patih.

    Yang kedua adalah Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo VIII / Kanjeng Pangeran Haryo Danurejo VIII [Hb.6.18.3] (Raden Mas Subari), kelahiran 3 November 1882, putra dari Gusti Pangeran Haryo Buminoto [Hb.6.18] dengan Raden Ayu Doyoasmoro [Ga.Hb.6.18.3]. GPH Buminoto adalah putra Sultan Hamengkubuwono VI. KPH Danurejo VIII, cucu Sultan Hamengkubuwono VI, inilah yang menikah dengan Gusti Kanjeng Ratu Chondrokirono II [Hb.7.54], putri Sultan Hamengkubuwono VII, dan menjadi Patih terakhir di Yogyakarta dari tahun 1933 sampai 1945. Setelah mengundurkan diri beliau dikenal dengan nama KPHH Harjokusumo. Lihat http://en.rodovid.org/wk/Person:460438 dan juga https://id.m.wikipedia.org/wiki/Danurejo_VIII.

    Atau, apakah sebenarnya mereka adalah orang yang satu dan sama?

    Mohon penjelasan dari yang mendalami sejarah Kasultanan Yogyakarta dan Trah Danurejo.

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Saya mengalami hal aneh dalam kehidupan sy, ada org pintar yg bisa berhubungan dengan gaib mengatakan bahwa sy dan isteri adalah satu pohon yaitu dari kerajaan Yogya dan Solo, sehingga anak kami terpilih oleh datukx dengan anugerah bs melihat hal gaib, 2 anak sy mengalami apa yg disebut orang dg Indigo, sebelumx bule saya ikut sy jg mengalami hal yg sama. Ortu sy dari pihak ibu berasal dari Purbolinggo, ttp sekarang tinggal di Banjarmasin sejak th 1970. Kejadian menimpa sy ketika anak bi 3 bs melihat gaib dan anak sy belum siap dengan hal tsb krn mash berusia 6 th. Kemudian diadakan selamatan memanggil leluhur kami agar pengkihatan gaib anak sy ditutup sementara sampai dewasa. Teman sy yg bisa berkomunikasidengan datuk sy mengatakan bahwa datuk sy berasal dari kerajaan Yogya klo melihat dr derajat,pangkat,pakaian dan bahasa kromo inggil kedaton, lalu dlm dialog itu hadir jg perwakilan dari kerajaan Banjar dan datuk sy bilang karena ini wilayah kerajaan banjar maka dia minta anak cucux tlg dijaga dan dipelihara oleh org kerajaan Banjar. Kata teman saya di rumah saya banyak tersimpan barang kerajaan yogya dan solo baik berupa keris, wayang, gamelan, emas, intan dll. Sehingga pernah ditarik oleh orang pintar dan keluar emas dan berlian ttp dibawa lari orang pintar tsb. Selama 6 tahun adik angkat saya yg juga bs melihat gaib mengatakan dia punya teman dari turunan Hamengkubuwono dan Paku alam yg bisa melakukan penarikan barang gaib, tetapi gagal karena tidak diizinkan datuk saya kata datuk saya yang bisa menzahirkan barang tsb hanya saya sendiri. sebelumx saya tanya sama org yang katax keturunan Paku Alam I tentang asal usul saya, katax benar saya berasal dari keturunan Kerajaan Yogya. Saya tambah penasaran trus saya telusuri asal usul saya dengan bertanya kepada ibu saya apakah benar ibu saya turunan kerajaan yogya, kata ibu saya juga nggak ngerti karena dulu jaman perang dan ibu saya masih kecil sehingga tidak sempat tanya mengenai asal usul kakek buyut saya. Sedikit info dari ibu saya, katax kakek saya mempunyai kelebihan supranatural dan beliau pemuka masyarakat kala itu dan beliau setiap 1 suro selalu membersihkan banyak keris peninggalan kakwk buyut saya. Info lainx kakek buyut saya dulux orang yang mempunyai barang berharga peninggalan kerajaan sehingga rumah kakek buyut saya harta dan barang berharga dirampas Belanda . selanjutx saya bertemu dg orang yg bisa melihat dan menjelaskan asal usul datuk saya, dijelaskanx sy memang berasal dari kerajaan Yogya kalo melihat pakaian dan bahasa beliau yg menggunakan kromo inggil kedaton. Bahkan dijelaskan kedudukan datuk saya setingkat patih. Saya cari info tentang kedudukan patih dikerajan Yogya sampai saya ketemu dengan laman ini yg menjelaskan ttg trah Patih Danurejo. Saya bawa info ini ke org pintar tsb dan katax benar datuk saya Patih Danurejo III yg bergelar Kanjeng Patih Sinuwun Harjo Barep Hadisuwarno dan beliau nengiyakan bahkan matur nuwun sudah dijelaskan tentang asal usulx. Mohon tanggapan dari sedulur yang mengenai hal ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerita mas sama dengan yang saya alami, sekian lama kami hilang obor tapi kini anak saya diberi indra kelebihan dibanding org biasa,perlahan-lahan kisah kelam itu mulai terkuak,apalagi saya menemukan silsilah mirip dengan alm.kakek saya(RM.Sudarmo)(http://id.rodovid.org/wk/Istimewa:Tree/901614)yang ternyata disitu tertulis adalah salah satu anak dari KGP Haryo Buminoto.adalah hal penting bagi saya untuk membuktikannya,jika hal tersebut benar, maka batin saya akan merasa tenang dan tidak terbebani dengan tanggung jawab untuk menemukan asal keluarga saya.memang kakek saya sudah meninggal tahun 1970 begitu juga nenek saya, satu-satunya petunjuk yang ada sudah terbakar bersama rumah kami yaitu surat balasan dari orangtua kakek saya,alm.kakek saya sendiri tidak sempat menceritakan/bahkan tidak mau untuk menceritakan siapa dan dari mana kami berasal,karena waktu itu ada konflik keluarga dan saat menikah dengan alm.nenek saya tidak disetujui mereka,

      sebenarnya sekitar tahun 1970 itu, setelah kakek saya mendapat balasan dari ortuanya di jawa, kami berencana pulang kejawa, tapi alm.kakek saya tiba-tiba sakit dan meninggal. kini saya mencoba mencoba untuk mencari kembali tanah leluhur saya, bukan maksud apa-apa,hanya ingin tahu dan supaya arwah eyang kami tenang di alam sana,saat ini saya mencari informasi sana-sini untuk dapat menemukan asal-usul dari keluarga saya,kami berharap ada yang masih mengetahui cerita ini...(Medan:syawaluddinst@yahoo.co.id)

      Hapus
  8. Banyak data tahun tidak akurat, sehingga lebih tepat disebut legenda dari pada sejarah, apalagi penulisnya mengaku sering lupa. Mbok ya kalau lupa tahun lihat buku sejarah nasional saja to Maas?
    Kraton Yogya berdiri pada tahun 1755 setelah selesai Perjanjian Giyanti, yang dipimpin Kompeni. Sejak tahun 1749, Kerajaan Mataram Surokarto sudah diserahkan kepada Belanda melalui akte oleh Pakubuwono II(1726 - 1749).Sejak itu Kerajaan Mataram disebut Vorstelanden,secara yuridis merupakan salah satu propinsi Kerajaan Nederland di Hindia Timur.Sekalipun begitu karangan ini menarik, hanya tidak akurat saja. Menurut Babad Banyumas, Patih Danurejo itu bupati Banyumas Yudanegara III(1749 -1755 M),yg diangkat jadi Patih oleh Hamengkubuwono I, karena SHB I tidak suka patih tunjukan Belanda.Menurut saya babad Banyumas juga keliru. Faktanya di Yogya ada nama tempat Danurejan dan Yudhonegaran. Artinya apa? SHB I punya dua patih, yaitu Danureja I yg mengurusi keamanan dan Yudhonegara yg mengurusi Ekonomi. Pnjelasan anda soal struktur hirarki birokrasi Kesultanan Yoga sepenuhnya benar. Asal usul Patih Danureja lebih akurat pendapat Peter Carey,peneliti Perang Jawa. Patih Danureja punya darah turunan Bali, lewat Untung Surapati.Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo pendapat Peter Carey ttg asal-usul Patih Danureja lebih akurat, tentu ada dasar ilmiahnya. Lalu anak-cicit Danureja skrg yg tergabung dlm suatu paguyuban mestinya turunan Bali. Lihat http://wiyonggoputih.blogspot.co.id/2015/03/sejarah-sulaiman-sleman.html

      Hapus
    2. tepat mas......seluruh keturunan joyosentiko/sumodipuro/danurejo IV/ kusumoyudo / surodipo adalah keturunan dari panjenenganipun pangeran Untung suropati......Bali adalah pancer dari beliau..otomatis keturunan beliau juga dari Bali Juga..

      Hapus
    3. Bener mas Patih Danureja I itu Yudanegara III. Saya kebetulan keturunan generasi 11 dari Yudanegara - Yudanegara II - Danuredja I - Mertadiwangsa.
      Dan saya mendapat semacam akta dari keraton jogja. Cuma yang saya heran dan masih bingung sampai sekarang soalnya saya juga mempunyai Marga THE atau ZHENG. Nah disitu saya bingung soalnya kan gelar Raden hanya menurun ke keturunan laki-laki. Begitu juga Marga THE juga hanya menurun ke keturunan laki-laki. Dan pernah dulu waktu kecil ada semacam reuni dari keturunan yudanegara dan yang datang kebanyakan masih bermuka tionghoa mas (^_^)

      Hapus
    4. Sama dengan dian saya juga keturunan dari yudanegara dan mempunyai marga THE atau ZHENG.

      Hapus
  9. Waaaaaah......cerita nyaa menariiiik.......

    BalasHapus
  10. Waaaaaah......cerita nyaa menariiiik.......

    BalasHapus
  11. menginspirasi mas...
    kalo solo adalah taklukkan jogja pasti rada gak bener soalnya solo-jogja-mangkunegaran walo keliatannya merdeka tapi dibawah pengawasan blanda, tapi kalo mereka bersengketa perbatasan itu rada masuk akal. tpi apapun itu, terimakasih informasinya mas

    BalasHapus
  12. Kalau boleh saya bertanya,Dimana alamat terakhir DANUREJO VIII,mungkin jika ada fotonya akan lebih baik,atau mungkin ada yang tahu bahwa KPH HARYO BUMINOTO memiliki anak bernama RM SUDARMO http://id.rodovid.org/wk/Istimewa:Tree/901614,mohon informasinya bagi yang tahu ceritanya. karena ini ada hubungannya dengan keluarga saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Danurejo VIII mempunyai 5 anak dari istri GKR Condrokirono, yaitu :
      -RM. Samsu Rochini
      -RM. Moersamto Hardjokoesomo
      -RM. Sakuntolo
      -RA. Suyadiyah
      -RA. Suyatilah
      Info keturunan Danurejo VIII bisa menghubungi RM Moerkadaradji, putro RM. Moersamto di nDalem Bintaran Tengah no 4, Yk

      Hapus
    3. Kalau keturunan danurejo menghub RM moerkadaradji siapa itu ya .dan bagai mana cara menghub nya tolong penjelasanya kalau tidak hub no saya 08995905185 ini no saya trima kasih.

      Hapus
  13. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  15. @sudiyanto spd , istri njenengan keturunan keberapa dari kanjeng eyang, dan silsilah nya dr yang mana pak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau tidak salah perkiraan saya....sekitar bulan Desember akan terjadi suatu peristiwa penting di tawangsari......yaitu grebeg, kirab trah dan warga atau mungkin penetapan hari jadi Desa Tawangsari......kalau memang terjadi...mohon kerawuhannya mas....kita bisa berbla bla perihal Eyang Panjenengan.suwun

      Hapus
  16. mas mahfudz,istri saya keturunan dari istri ke 3 yaitu nyi Dalimah yang menetap di Ds.Tawangsari waktu itu masih bernama Ds.Klesem Kec Wonoboyo temanggung jateng.

    BalasHapus
  17. Apakah pak Sudiyanto menyimpan trah dari semua istri kanjeng surodipo ?

    BalasHapus
  18. saya dapat trah ini dari eyang saya.

    Dari Surodipo dan Ny Dalimah lahir, Ronodipo , dari ronodipo lahir Ronopawiro, Dari Ronopawiro lahir Ny Patimah , dari eyang Patimah lahir 7 orang anak.
    1. Onggopawiro ( Joho,Wonoboyo, TMG )
    2. Sugiono ( Cemoro , TMG )
    3. Kartoredjo ( Joho )
    4. Ibu dr mbh Hambali ( Kleseman, wonoboyo )
    5. Kyai Naruh ( gejagan, Ngadirejo , TMG )
    6. Sinoeng Soehardjo ( Joho )
    7. Sis Atmodjodjo ( Joho ).

    Bapak saya Cucuk dari Katoredjo dan Ibu Saya cucu dari Sinoeng Soehardjo.



    Terimakasih pak Sudiyanto yang telah berbagi nyambung trahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pada prinsipnya kami para trah sedang mengumpulkan pendataan tapi keterbatasan kami mengharuskan untuk bersabar meski akan berlanjut bertahun2, trah dari pak sis juga kita undang dalam temu trah yg dilakukan oleh wakil bupati temanggung bpk Irawan bersama Muspika Wonoboyo, kebetulan meski saya bukan warga Tawangsari dimintai Pendapat dan diperintahkan untuk menelusuri trah ini Guna dasar pelaksanaan Grebeg Surodipo sebagai sejarah Babat Desa Tawangsari. mohon petunjuk dan kerjasamanya. suwun. maaf istri keturunan dari mbah Tumbu. jumlah putra ki surodipo ada 3 : 1.nyi sariyem, 2 .ki surowijoyo dan 3. ki Ronodipo dg demikian panjenengan masih ada hubungan trah dg pak Harun dan pak Sakban Tawangsari yang merupakan keturunan dari ki ronodipo. silakan hubungi beliau untuk penjelasan trah dari ki ronodipo.... ini no bp. sakban 0816392560 makasih.

      Hapus
    2. mbah tumbu adalah trah dari nyi sariyem,dan yang membingungkan kami saat ini adalah yang seperti anda alami mas......saudara menikah dg saudara.....ini menjadikan PR yang sangat menyita waktu. swn

      Hapus
    3. Keberadaan ki Surodipo di Desa Klesem (Tawangsari)
      Dikisahkan oleh para leluhur dan Sesepuh di Wilayah Temanggung ,pada saat mudanya sebelum Surodipo berkecimpung di dunia Politik, Joyosentiko ya Ki Surodipo bersama Kyai lancing sengaja mencari tempat untuk bersiar agama, dan joyosentiko adalah santri yang diajak untuk berkelana , sehingga mereka menemukan tempat yang cocok yaitu wilayah Temanggung.
      Kyai Lancing memilih tempat tinggal hingga akhir hayatnya di dukuh Sembir Desa Purwosari.Adapun joyosentiko saat itu diberikan kesempatan oleh Kyai lancing untuk memilih tempat mau kemana atau tetap bersama Kyai Lancing. Sambil berfikir ,Joyosentiko melakukan perjalanan di wilayah ini, sehingga joyosentiko menemukan suatu tempat yang dianggap indah dan menyenangkan di wilayah klesem [ sekarang Desa Tawang Sari ] tepatnya di sekitar curug Trocoh.
      Disinilah joyosentiko memulai awal cerita mengapa Surodipo sampai ke Desa Klesem [ sekarang bernama tegalan batur ] .
      Saat itu Joyosentiko melakukan perjalanan ke Curug trocoh sebenarnya sambil mencari keponakannya yang sedang melakukan perjuangan di wilayah lereng gunung Perahu ini, tiada lain adalah Pangerang Diponegoro [ Ontowiryo saat itu]. Dalam misi perjalanan ini Joyosentiko memang awalnya adalah bersiar agama islam bersama Kyai lancing,ini di buktikan dengan waktu itu Joyo sentiko membawa sebuah kitab suci Al-Quran yang bertuliskan Tangan yang sampai sekarang masih tersimpan dengan baik di Desa Dadapan Kec.Wonoboyo Kab.Temanggung.Karena pembawaan beliau yang pandai bergaul, di sini beliau juga mendapat sahabat yaitu seorang kapten cina yang bertempat tinggal di kalibeber bernama Tan Jing Sing. ( kelak membantu Joyo Sentiko mengenalkan dengan Jhon Crawfurd dan Tan Jing Sing diangkat menjadi Tumenggung dengan gelar Tumenggung Secodiningrat )

      Hapus
  19. Singkat cerita setelah menemukan Pangeran Diponegoro ( saat itu bernama Ontowiryo ) dan bersama sama melakukan perjuangan di wilayah ini,nama joyosentiko menjadi dikenal , sehingga banyak pemuda yang menuntut ilmu dan ilmu kanuragan kepadanya .Karena kelebihan dan kebijakan beliu saat itu , maka terdengarlah kesohoran joyosentiko tersebut ke telinga kepala Desa Klesem [ sekarang Desa Tawangsari ] yaitu Ki Bandos. Oleh Ki Bandos Joyo Sentiko disuruh turun Lembah dan di berikan tempat di Rumah Ki Bandos.
    Setelah berada di Desa Klesem ,sepak terjang joyo sentiko dianggap sangat menonjol dalam hal apapun,bahkan dalam hal menjalankan pemerintahan Desa.,ini terbukti karena saat itu Ki Bandos sering kali memerintahkan Joyosentiko sebagai pelaksana Pemerintahan desa sedangkan Ki Bandos justru seakan menjadi Bendahara Desa saja. Karena kecakapan kerja dan kegagahan Joyo sentiko saat itu,Ki Bandos akhirnya memutuskan untuk mengangkat Joyosentiko sebagai menantunya,dengan dijodohkanya beliau dengan anak ki bandos satu satunya yang bernama Dalimah yang saat itu masih berusia 13 tahun dan saat itu usia Ki Surodipo sudah menginjak 26 Tahun kurang lebihnya. Selisih usia suami istri ini 13 Tahun. ini dilakukan oleh ki Bandos agar Joyosentiko betah dan tidak pergi dari Klesem.
    Namun perjalanan hidup joyosentiko berkata lain,sehingga pada suatu hari,Joyosentiko di datangi Pangeran Diponegoro ( saat itu bernama Ontowiryo ) untuk di ajak kembali ke Kraton karena situasi kraton waktu itu sedang bergolak . Kakek dari P.Diponegoro diberhentikan sebagai raja oleh gubernur Dandeles dan ayahanda P.Diponegoro diangkat sebagai Raja dengan bergelar kanjeng sultan Mataram. Ini dilakukan oleh Diponegoro mengingat waktu itu P.Diponegoro berdomisili di Tegalrejo dan mempunyai tanggung Jawab sendiri, Joyosentiko diharapkan bisa mendampingi ayahandanya di kraton karena situasi pasca pergantian kedudukan raja tersebut masih memanas.ini terjadi berkisar pada tahun 1810.
    Pada saat itulah pertama kali ki Bandos mengetahui bahwa ternyata Joyosentiko adalah Orang Keraton, namun Oleh Joyosentiko Ki Bandos dan Istrinya di Pesan untuk tidak membukakan atas jati diri beliau yang sebenarnya kepada Warga Sekitar,kecuali hanya untuk di ketahui oleh keluarga saja.( Dalam kisah selanjutnya bisa didalami dalam ontran ontran Yokyakarta dan Awal Politik Joyosentiko yang ada dalam buku babad SURODIPO karya Sigit Purwanto selaku penulis dan perangkum sumber tentang Babad Surodipo atau yang penulis suguhkan dalam halaman terdahulu dalam buku ini. )
    Dalimah muda begitu sedih karena di tinggal suaminya.namun sang ayah selalu membesarkan hati anaknya dengan berbagai cara.kesibukan Joyo sentiko di keraton membuat beliau jarang menjenguk istri di Lereng Gunung Perahu ini,namun Dalimah tetap setia menjadi istri yang selalu menunggu meski beliau tahu bahwa Joyosentiko ternyata telah beristri .

    BalasHapus
  20. Selama menjabat sebagai bupati maupun Patih, Ki Danurejo sesekali masih tetap menjenguk Nyi Dalimah, dan betapa gembiranya beliau suatu saat mengetahui Dalimah mengandung putranya yang I di tahun 1824 saat usia Dalimah sudah berusia kurang lebih 27 tahun, bukti tanda kasih ini selanjutnya diberi nama Sariyem.Entah perjalanannya bagaimana waktu itu sehingga beliau masih sempat sering menjenguk keluarga ini Hingga beliau berputra 3 (Tiga) dari hasil pernikahan beliau itu. ini mengingat kesibukannya sebagai pejabat negara yang sangat penting. Sampai saat itupun beliau masih merahasiakan jabatanya kepada warga sekitar,yang mereka tahu hanyalah Joyo Sentiko yang dulu adalah suami Nyi Imah ya menantu Ki Bandos..Ke tiga puta putri beliau adalah : Sariyem, Suro Wijoyo, dan Rono Dipo. Adapun cerita yang masih menjadi misteri sampai sekarang adalah tentang keberadaan seorang bayi yang terbawa arus banjir dan ditemukan oleh warga waktu itu dan diberi nama “ Sarah ayu “ ,ini anak atau cucu dari Ki Surodipo belum terdapat kejelasan, mengingat saat terjadinya Ladu Klesem Usia Ki surodipo sudah 93 tahun dan Nyi Dalimah sudah berusia 80 Tahun.
    Seiring perjalanan waktu, sampailah jabatan adipati berakhir dengan pensiun, sebelum memutuskan untuk menetap di Klesem ( Tawangsari red ) beliau menghabiskan waktu di wilayah Klaten dan sekitarnya, dengan berbaur dengan masyarakat kecil dengan menggunakan nama SURODIPO. Ada yang mengisahkan Surodipo meninggal dalam kerusuhan kraton Surakarta , namun sebenarnya Surodipo pulang ke Istri ketiganya yang berada di lereng Gunung Prahu . Dalam pemikiran beliau dari keempat istri yang paling jarang di kunjungi adalah Nyi Imah selama hidupnya. Maka sekaranglah saatnya sisa hidupnya di curahkan keseluruhannya kepada istri yang selalu menunggu dengan setia ini. Juga jadi Ini dilakukan mengigat Dalimah merupakan anak Tunggal yang tidak bersaudara.
    Selama menghabiskan sisa hidupnya di Klesem ini , nama yang digunakan sudah Ki Surodipo yang semakin membuat warga benar benar tidak mengetahui kalau beliau adalah pensiunan Patih yang tersohor.Disini sosok Surodipo kembali melanjutkan siar islamnya yang telah tertunda dulu karena tugas yang memanggil.
    Tempat yang di pilih untuk melakukan penularan ilmu kanuragan dan pelajaran agama yaitu di WATU GODEG. Beliau mewajibkan para santri untuk mensucikan diri Sebelum menerima pelajaran di TUK UNTUNG salah satu mata Air di sekitar Watu Godeg yang beliau beri nama tuk Untung sebagai pengingat salah satu leluhurnya yaitu Untung Suropati,atau mungkin memang karena sumber mata air itu merupakan sumber keberuntungan , terbukti sepanjang sejarah ,mata Air tersebut belum pernah mati hingga sekarang meski terjadi kemarau panjang sekalipun.

    BalasHapus
  21. Rutinitas sehari hari Surodipo diisi dengan mendalami Agama dengan para santrinya .
    Namun Allah berkehendak lain…….hingga pada usia beliau mencapai 93 tahun atau baru berada di desa Klesem [ Tawangsari red] selama kurang lebih 27 tahun atau setelah pensiun selama kurang lebih 30 tahun, terjadilah banjir bandang pada tahun 1877 yang pada saat itu beliau berada di Watu Godeg bersama para santrinya . Banjir bandang ini yang di sebut dengan Ladu Klesem hingga sekarang. Saat itu ki Surodipo sedang memberikan wejangan kepada murid muridnya dengan membacakan kitab Ambieo salah satu kitab bertuliskan Arab berbahasa Jawa,tiba tiba datanglah banjir bandang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya,dalam kejadian itu salah seorang santrinya yang kebetulan masih keluarga menyelamatkan kitab tersebut bersama pusaka beliau yang berupa bendok berupa benda tajam yang merupai parang pendek yang saat itu di bawa oleh Ki Surodipo di Watu Godeg. Peninggalan peninggalan tersebut masih tersimpan baik di tangan ketutunan Mbah Timbo salah seorang buyut Ki Surodipo .
    Ladu Klesem menghayutkan seluruh pedesaan Klesem dan daerah daerah lain yang di laluinya, sehingga banyak korban dari kejadian ini , baik harta benda maupun nyawa. Sebagian yang selamat kemudian memindahkan Desanya yang dirasa sudah tidak aman karena terlalui banjir ke Tegalan Tawang sari yang berada di tempat yang agak tinggi dibanding Klesem. Pemerintah Desa waktu itu melakukan tukar guling dengan bengkok Desa dan bondo Desa yang ada di tegalan Tawang sari dengan pedesaan Klesem. Bekas Desa klesem kemudian dijadikan Bengkok dan Bondo Desa dengan di beri nama tegal Baturan, kenapa diberi nama tegal baturan karena tegalan tersebut masih banyak terdapat Baturan baturan bekas rumah warga korban ladu klesem.Ini merupakan moment penting atas berdirinya desa Tawangsari hingga dikenal sampai sekarang.
    Konon ladu ini membawa para korbanya hingga sampai di sungai terbesar di Kab. Kendal yang merupakan sungai terusan menuju Kali Bodri dan bermuara sampai ke laut Utara. Ki Surodipo termasuk korban yang terbawa Ladu ini, namun nasib baik masih berpihak pada beliau karena saat ditemukan oleh warga Petaruman Singorojo ,keadaan beliau masih dalam keadaan hidup dengan posisi telungkup sambil memegangi Peti miliknya yang ternyata berisi Emas dan Pusaka - pusaka.
    Diceritakan waktu itu beliau masih bertahan hidup hingga beberapa bulan sambil melakukan pertapaan ditepi sungai tersebut sambil melakukan pemulihan kondisi tubuh.
    Didaerah ini beliau mendapatkan nama “Ki Bagus surodipo” . Nama ini diberikan karena saat beliau ditemukan oleh kakek buyut dari juru Kunci makam beliau yaitu mbah Karman .beliau membagikan perhiasan yang beliau simpan bersama pusakanya kepada penduduk setempat sambil berwasiat : ‘ kelak kalau saya meninggal,tolong saya dikuburkan di tempat saya bertapa ini bersama pusaka pusaka saya,dan tolong berikan tanda diatas makam saya dengan ditanami pohon asam sebagai tanda makam saya agar kelak andai masih ada anak cucu saya yang masih hidup dan mencari saya dapat menemukan makam saya karena pohon asem ini adalah tanda saya adalah korban dari ladu klesem’
    Dibibir sungai kurang lebih 4 meter dengan ketinggian kurang lebih 5 meter dari sungai singorojo,terdapatlah 2 pohon asam yang sudah menyatu dan sangat dikeramatkan oleh warga sekitar,pada tahun 1984,penulis juga pernah berkunjung kesana ,namun waktu itu penulis tidak mengetahui kalau ternyata pohon itu ada hubungannya dengan sejarah ki Surodipo.

    BalasHapus
  22. Salah satu keturunan ki Surodipo yang saat itu mendapat petunjuk adalah trah ki Rono Dipo putra ki Surodipo keturunan ke 6 dari ki surodipo .
    Dalam mimpi tersebut beliau diperintahkan untuk menyusuri sungai dimana ladu klesem dulu melewatinya, al kisah sampailah beliau di desa Petaruman, setelah melakukan tirakat tirakat ke setiap makam ditepi sungai yang dulu dilalui ladu klesem.
    Di desa petaruman waktu itu beliau bertemu dengan juru kunci dari pohon asem tempat ki Surodipo dimakamkan,sehingga terbukalah misteri makam ki Surodipo selama ini seperti tertulis diatas.
    Dalam hal ini penulis berusaha menyusuri secara langsung ke juru kunci pohon tersebut ternyata mbah karman sudah meninggal pada th 2005,dan penulis hanya dapat bertemu dengan putranya yang bernama mbah Jumeneng.
    Dari beliaulah penulis mengetahui kalau ada keturunan Ki Surodipo yang pernah datang dan selalu ngangsu kawruh kepada mbah Karman dan dilanjutkan dengan mengirim doa di makam ki Surodipo tersebut. Namun sayang waktu itu beliau tidak berusaha menyampaikan kebenaran tersebut kepada seluruh Trah untuk di carikan pemecahan dari misteri ini.
    Setelah penulis ke Petaruman, penulis berusaha mencocokan kembali dengan mengajak keturunan beliau trah dari ki Rono Dipo yang telah menceritakan kepada penulis waktu itu menuju ke Petaruman,ternyata benar bahwa beliau pernah ke makam ini, namun betapa terkejutnya beliau mengetahui makam sudah menjadi sungai, dan pohon asam sudah tidak lagi berada di tempatnya. Tampak rasa kecewa terlihat dari perubahan raut muka beliau setelah mengetahui kejadian ini.
    Pada tahun 2001/2002 makam beliau telah terbawa banjir bandang yang juga menghayutkan rumah warga sekitar termasuk rumah mbah Karman,ada 40 rumah hanyut dan 126 rumah rusak dan terendam air waktu itu, bahkan beberapa mobil pengangkut material dari sungai itupun ada yang hanyut terbawa banjir karena memang datangnya air begitu cepat dan tiba tiba.
    Sungguh suatu misteri mengapa disaat hidup beliau terhempas oleh banjir bandang dan di setelah meninggalpun makam beliau hanyut dihantam banjir bandang juga.
    Kami yakini saat ini beliau dan pusaka pusakanya berada di suatu tempat bernama sungai‘’ koro welang ‘ yang merupakan muara sungai dari kali Bodri dan tempat terakhir ditemukanya salah satu mukzizat dan petunjuk goib tentang beliau

    BalasHapus
  23. Kejadian kejadian aneh tahun 2013 /2014 melalui mimpi,goib dan pembuktian nyata membuat beberapa keturunan ki Surodipo menuruti langkah kaki menyusuri jejak ladu Klesem dan ladu 2002.
    Bahkan setelah ada titik temu dan pembuktian yang diluar akal sehat manusia,salah satu keturunan Ki Surodipo bernadhar untuk membangun petilasan dimana beliau dulu melakukan penyebaran ilmunya yaitu di watu Godeg.Inipun atas petunjuk goib kepada keturunan beliau yang justru tidak tahu menahu perihal sosok Ki Surodipo,dia adalah trah ki Surodipo ke 7 dari keturunan anak pertama ki Surodipo dari Nyi Sariyem.
    Inilah yang menjadikan moment tergeraknya hati para Trah di wilayah Temanggung untuk menguak tabir yang selama ini hanya sebatas cerita turun temurun saja. Atas tuntunan dan dukungan dari keturunan Tawangsari, trah dari Nyi Sariyem ini bersama sama dengan trah dari ki Rono Dipo dan Trah dari ki Surowijoyo melakukan penyusuran dimanapun informasi berada. Ketiga trah ini bersama juru kunci watu Godeg yaitu mbah Subroto salah satu keturunan trah dari Nyi Sariyem,berusaha menguak tabir makam ki Surodipo dan meniti misteri ladu Klesem yang selama ini hanya menjadi cerita turun temurun.
    Semoga dengan terbukanya tabir ini akan menjadikan hal yang bermanfaat bagi seluruh trah ki Surodipo pada umumnya dan kususnya trah Ki Surodipo di wilayah Temanggung. Penulis masih berharap banyak untuk penjelasan dari semua Trah di wilayah ini dan kritik serta saran juga informasi terkait keberadaan Ki Surodipo di Tawangsari amat sangat kami butuhkan demi terjalinnya dan bersatunya trah ki Surodipo Temanggung.
    Semoga dengan ini pula tidak lagi ada pihak pihak yang merusak citra trah Ki Surodipo dengan tindakan tindakan yang tidak terpuji dengan mengarang cerita – cerita yang menyesatkan kususnya di wilayah Temanggung.





    Kendal, 10 Januari 2014
    Penulis


    Sudiyanto

    BalasHapus
  24. Ini silsilah yang saya salin dari akta yang saya peroleh dari jogja.
    1. B.R.AJ. Judanegara
    2. R.T. Judanegara II
    3. R.Ap. Danuredja I
    4. R.Ng. Mertadiwangsa
    5. R. Djakasaputra
    6. R. Tedjo Oetomoa
    7. R. Juda Prakasa
    8. R. Laksa Wibawa
    9. R. Wiknyo Hartono
    10. R. Warsito
    11. saya....

    BalasHapus
  25. Danurejo II atau patih Sedo kedaton adalah cucu Danurejo I alias Yudonegoro Bupati Banyumas.
    Isi Blog ini entah dari mana asalnya.

    BalasHapus
  26. MENYEDIAKAN 7 PERMAINAN KARTU TERFAVORIT
    BANDAR Q | DOMINO 99 | ADU Q | BANDAR POKER | POKER | CAPSA SUSUN | SAKONG
    GABUNG SEKARANG
    MEMBERIKAN BONUS TERBESAR !!

    BalasHapus
  27. Assalamualaikum wr.wb

    Dari mbah saya ada turunan satu buah kertas dan buku silsilah.. tp buku tersebut sudah hilang.. dikarenakan terbakar d rumah dulu d rumah nenek saya ..
    Skrg hanya tinggal kertas silsilah KKHH pada tahun 1979 ( yg d buat pada tahun 26 juli 1979,jakarta )
    Mungkin ada kaitannya sama patih terakhir turunan HANYOKROWATI HAMANGKURAT ..
    KKHH ( keluarga Keturunan Hanyokrowati Hamangkurat )
    Sejarahnya mbah saya jauh jauh datang kemedan sumatra utara untuk mengasih silsilah ini untuk nenek saya karna nenek saya menikah sama orang pesisir sumatra timur(medan) tepatnya di kabupaten batubara sekarang, kecamatan talawi, kelurahan labuhan ruku ..
    Dan skrg masih di rumah lambang tersebut di bingkai..
    Saya juga masih membaca mencari tahu dan membuka" setiap blog /interner tentang sejarah kturunan ini.. tp tidak begitu lengkap ..
    Menurut saya ini ada artinya mungkin dengan peninggalan silsilah ini kita jangan sampai lupa atau pun tidak mengenal saudara" turunan dari leluhur..
    Saya juga masih mencari keluarga dari mbah saya di pulau jawa atau pun pulau sumatra dll
    Mana tahu saling berjumpa dan saling rukun bersatu kembali tali silaturahmi sesama anak cucu dari leluhur kita..

    Nama namanya..
    mbah saya :
    Nenek saya :

    Nama pembuat dari lambangnya
    R.soegiharto
    R.soekiman
    Mereka adalah anak tertua dari 7 bersaudara kandung dan anak tertua dari 6 bersaudara kandung.


    Jika ingin melihat scannan dari lambang tersebut hubungi akun saya om/pakde..
    Yasserarrahim@gmail.com

    Yg aslinya masih di rumah..
    Mana tahu om yg buat blog bisa menambah rangkaian dari silsilah dari turunan kerajaan mataram-ngayogyakerto

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saiki ora usah mikiri sing wis oranana,mbokan rika pada dadi mumet,sing ana bae mayuh dirumat sing apik,pada sing akur aja gegoh aja reang mayuh pada nggolet ben uripe nyamleng,tentrem,sejahtera dunia lan akherat.

      Hapus
  28. Dan pada intisarinya semuanya adalah dari satu keturunan yaitu keturunan Nabi Adam allaihi salam dan kanjeng Ibu Siti Hawa,jadi kita semua bersodara...wis kayakuwe bae...

    BalasHapus
  29. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  30. Pgn ikut koment.... Siapa tahu sodaraan.
    Silsilah dr kraton kl saya.

    1. Kanjeng susuhunan prabu mangkurat agung.
    2. BRay. Danuredjo
    3. RT nilasraba (R. ng kertamenggala)
    4. RT. Ragayana
    5. R. Ay cakramenggala
    6. R.wanasalam
    7. R. Wanasari
    8. R. Wanaresa
    9. R. Wanadimeja
    10.R. Haji Harun Ar Rasyid
    11. R. Siswowoyoto
    12. R. Sujanto
    13. R.Rr. dina lestari handayani

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trahnya agak sama ya.
      Kalo saya:

      1.Kandjeng Susuhunan Prabu Mangkurat Hagung ing Mataram
      2.BRAj Danuredja
      3.RT Nilasraba/R.Ng Kertomenggala
      4.RT Raganaja
      5.R.Ng Tjakramenggala
      6.R.Dm.Tjakradipa
      7.R.Mangundarsa
      8.R.Ng.Ranawidjaja
      9.R.Dulkamit
      10 R.Alimustaram
      11.R.Pawirasumarta
      12.R.Bambang Basuki

      Hapus
    2. Trahnya agak sama ya.
      Kalo saya:

      1.Kandjeng Susuhunan Prabu Mangkurat Hagung ing Mataram
      2.BRAj Danuredja
      3.RT Nilasraba/R.Ng Kertomenggala
      4.RT Raganaja
      5.R.Ng Tjakramenggala
      6.R.Dm.Tjakradipa
      7.R.Mangundarsa
      8.R.Ng.Ranawidjaja
      9.R.Dulkamit
      10 R.Alimustaram
      11.R.Pawirasumarta
      12.R.Bambang Basuki

      Hapus
  31. Orasah digoleti sing wis oranana ..sing ana baê mayuh sanak sedulur pada sing guyub rukun aja pada cah congkrah ..silaturahmi karo sedulur sing ana diraketaken alias saling mengunjungi sing mampu mbantu sing kurang mampu ...jaman saiki mbosanu tek mataken tunggal kaki baé wis pada orakrnal putu2nè merga sing tuwa2 ora pada ngajêk silaturahmi...

    BalasHapus
  32. sing ora nana ya digoleki ora papa, sapa ngerti isa ketemu.

    BalasHapus
  33. Makam eyang patih III jogja /eyang kanjeng pangeran haryokusumoyudo berada di makam sentono dalem majan

    BalasHapus
  34. Surakarta ditaklukkan demi perluasan wiayah jogja? Babad dari mana bung?? Surakarta tidak pernah ditaklukkan bung.
    Tahun 1715 hamengkubuwono mendirikan keratonan yogyakarta? Jogja berdiri 1755 setelah mangkubumi join dengan voc yg akhirnya memecah mataram jadi surakarta dan jogjakarta. Tahun 1715 belum ada yg namanya hamengkubuwono, namanya masih mangkubumi dan masih tinggal di keraton kartasura. Pindah surakarta 1745, pecah mataram 1755. Itupun gelarnya masih sultan kabanaran belum sultan hamengkubuwono tinggalnya masih di ambarketawang sambil menunggu kraton jadi. Tolong dikoreksi

    BalasHapus
  35. Sejarah bangsa yang beginilah yang seharusnya patut di ambil tau

    BalasHapus
  36. Waduuh...sejarah Surodipo...kok dadi menceng ngalor ngidul...ngawur

    BalasHapus
  37. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus